Rabu, 27 Juni 2012

Listening Regina Spektor-The Call

Diposting oleh Fa di 13.07 0 komentar
yap, barusan aku dengerin the call-regina spektor, dan gayaan mau tes listening gitu. dan beginilah hasilnya *yang pake warna merah berarti salah yaaa :D*


It started I does a Feeling
Which then grow into a hope
Which then turning to a quite thought
Which then turn into a quite word

And then I would grow louder and louder
Then it was it bad on cry

I’ll come back 
when you call me
No need to say good bye

Just because everything changing
Doesn’t mean it’s not
 been swept before

All you can use try to know 
who your friends are
As you had after the war
Because stand on a dark 
who risen and fall other like

You’ll come back when it’s over
No need to say good bye
You’ll comeback when it’s over
No need to say good bye

Now we’re back to the beginning
It just the feeling in no one knows yet
But just because they can’t feel to
Doesn’t mean that you have to forget

Let your memories grow stronger and stronger
To the before you’re raised

You’ll come back 
when they call you
No need to say good bye

You’ll come back 
when they call you
No need to say good bye

 
nih yang bener coyy

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word

And then that word grew louder and louder
Til it was a battle cry

I'll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything's changing
Doesn't mean it's never
Been this way before

All you can do is try to know
Who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon
And follow the light

You'll come back
When it's over
No need to say good bye

You'll come back
When it's over
No need to say good bye

Now we're back to the beginning
It's just a feeling and no one knows yet
But just because they can't feel it too
Doesn't mean that you have to forget

Let your memories grow stronger and stronger
Til they're before your eyes

You'll come back
When they call you
No need to say good bye

You'll come back
When they call you
No need to say good bye 


yah lumayan lah ya.. salah-salah dikit *maksa* 

Kamis, 14 Juni 2012

ETNOMATEMATIKA DAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Diposting oleh Fa di 23.07 0 komentar

Pendidikan karakter kini  mulai  diterapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan,  dan menjiwai di setiap mata pelajaran.  Bila  pendidikan karakter tidak diterapkan ada kekhawatiran anak-anak Indonesia terancam mengalami keterpurukan moral, mengingat saat ini sangat banyak kebudayaan baru yang masuk ke Indonesia, dimana budaya itu kurang sesuai dengan kebudayaan Indonesia, sebagai contoh pada fashion dan juga pada gaya hidup sehingga rasa hormat siswa terhadap guru dan orang tua yang mulai berkurang.
Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkannya secara lebih operasional sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/ )
Guru matematika sebagai salah satu komponen pendidikan yang melaksanakan proses belajar mengajar di kelas dan juga berinteraksi langsung kepada siswa memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan pendidikan karakter tersebut di dalam diri siswa.
Etnomatematika merupakan salah satu cabang ilmu matematika baru, dimana di dalam etnomatematika matematika tidak hanya dilihat sebagai suatu kumpulan definisi, teorema, ataupun aksioma, akan tetapi di dalam etnomatematika matematika digabungkan dengan unsur-unsur budaya lokal yang mempengaruhi pola pikir masyarakat setempat. Etnomatematika berasal dari dua kata, yaitu etnik dan matematika. Sudah jelas tentunya, etnik atau yang lebih sering kita sebut dengan budaya pastilah menggambarkan karakter masyarakat.
Dari uraian di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan dimana etnomatematika dapat dikaitkan dengan pendidikan karakter, dimana etnomatematika juga berhubungan dengan kebudayaan atau karakter yang berlaku di lingkungan setempat. Beberapa karakter yang dapat dibangun dalam proses belajar mengajar di kelas antara lain (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/):
  1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
  2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
  3. Menunjukkan sikap percaya diri;
  4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
  5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
  6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
  7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
  8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
  9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
  10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
  11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
  12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
  13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
  14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
  15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
  16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
  17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat;
  18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
  19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
  20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
  21. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Oleh karena itu, seorang guru matematika dapat menggabungkan etnomatematika dengan konsep pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar, sehingga mampu meningkatkan bukan hanya motivasi akan tetapi juga pemahaman siswa terhadap matematika.

KEBIJAKAN GURU DAN KURIKULUM PENDIDIKAN MATEMATIKA

Diposting oleh Fa di 23.06 0 komentar


Pada era global seperti saat ini, pendidikan merupakan hal yang sangat menentukan kesuksesan seseorang. Dengan pendidikan yang tinggi, maka kehidupannya juga akan terjamin. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menjamin pendidikan warga negara Indonesia sesuai dengan pasal 31 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, dimana setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Salah satu ilmu yang sangat berdampak pada kemajuan suatu negara adalah ilmu matematika. Erman Suherman (2001:29) menyatakan bahwa matematika sebagai ratunya atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seseorang mampu menguasai ilmu matematika dengan baik, maka ia juga akan mampu menguasai ilmu-ilmu lain. Beberapa aplikasi nyata dari penggunaan matematika dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar ataupun tidak. Misalnya pada pembangunan suatu gedung, diperlukan ilmu matematika yang baik agar gedung tetap kokoh; pada pembuatan alat-alat teknologi juga memerlukan ilmu matematika yang baik, mulai dari logika hingga penerapan ilmunya; kegiatan jual beli yang dilakukan baik di toko ataupun pasar juga memerlukan perhitungan matematika yang baik. Oleh karena itu, ilmu matematika sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena sangat berguna untuk masa depan.
Pendidikan saat ini lebih sering dipandang sebagai proses belajar belajar yang terjadi di sekolah. Proses belajar mengajar ini tidak dapat terlepas dari tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru tersebut sangat terkait dengan dua unsur yang mempengaruhi keberhasilan suatu pendidikan, yaitu pendidik dan anak didik (Soedomo,2008:22). Pendidik yang dimaksudkan di sini terdiri dari orang tua, pengajar atau guru, dan pemimpin atau pemuka masyarakat. Sedangkan anak didik yang dimaksudkan di sini adalah anak yang lebih sering kita sebut dengan siswa.
Guru yang juga dianggap sebagai pendidik menjadi salah satu unsur yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karena peran guru yang cenderung lebih besar terhadap keberhasilan akademik siswa di sekolah, dibandingkan oleh orang tua. Guru bahkan seringkali mendapat kepercayaan dari orang tua siswa untuk menolong dan membimbing anaknya. Peran dan tanggung jawab guru yang besar ini menuntut seorang guru memiliki sikap profesionalisme yang tinggi. Akan tetapi, segala tindakan guru haruslah sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini. Permasalahan yang terjadi ialah, kurikulum yang ada di Indonesia hanya mampu diikuti oleh sebagian siswa saja, padahal seharusnya kurikulum dapat diikuti oleh semua siswa. Akan tetapi, karena kurikulum saat ini merupakan sebuah pedoman wajib bagi guru dan siswa, maka kurikulum ini harus dilaksanakan bagaimanapun keadaannya.
Keadaan inilah yang saat ini menjadi tantangan dan juga peluang guru untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah dimilikinya dalam proses belajar mengajar. Apabila dilihat dari sisi desain instruksional pembelajaran matematika, seharusnya seorang guru merupakan komponen multi dimensi, dimana guru tidak hanya sebagai pelaksana pembelajaran, tapi juga dapat menjadi pengembang kurikulum, dan lain-lain. Akan tetapi pada kenyataannya guru di Indonesia saat ini hanya berlaku sebagai pelaksana pembelajaran, tidak mampu ikut dalam pengembangan kurikulum.
Oleh karena peran guru yang sangat terbatas, maka sudah seyogyanya seorang guru mampu memanfaatkan perannya di dalam kelas dengan sebaik-baiknya. Di dalam kelas, seorang guru memiliki dua pilihan besar, yaitu ia dapat menggunakan metode student centered atau metode Ujian Nasional oriented ( examination oriented ). Jadi, meskipun guru berada dibawah tekanan kurikulum saat ini yang berbasis pada Ujian Nasional, akan tetapi di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru tetap bisa menggunakan metode student centered, tidak hanya menggunakan metode drill untuk melatih siswa mengerjakan soal saja. Karena metode student centered  akan memberikan pemahaman materi yang lebih mendalam kepada siswa.
Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru matematika yang bijaksana seyogyanya mampu menentukan metode yang diyakininya untuk dilaksanakan di dalam kelas, sehingga siswa tidak hanya berorientasi kepada Ujian Nasional yang akan ditempuhnya, akan tetapi siswa juga tetap memahami materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Di sini guru juga dapat menggunakan konsep konstruktivisme, mengingat konsep konstruktivisme akan lebih diterima oleh pemikiran siswa, karena menjadi lebih dekat dengan siswa. Ilmu desain instruksional matematika juga dapat digunakan dapat penentuan cara mengajar guru di sini, baik dalam merancang RPP, students’ worksheet, maupun tugas-tugas siswa.

SUMBER:
Erman Suherman,dkk.2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:JICA

Soedomo Hadi.2008. Pendidikan (Suatu Pengantar). Surakarta:LPP UNS

Selasa, 05 Juni 2012

ETHNO MATHEMATICS

Diposting oleh Fa di 22.28 0 komentar


Every country has its own culture. There is a different culture between Indonesia and Malaysia, also between Indonesia and Japan. There’s also different culture between one province and another province in Indonesia. It is because Indonesia is a country with thousands of islands spanning out from the West (Aceh, Sumatra) to the East (Merauke, Irian Jaya). It is located between two oceans, the Pacific and Indian, and two continents, Asia and Australia. The population would be about 350 million residents. In fact by 2011, the population had grown to 375 million. Those different cultures we usually called as ethnology.
Mathematics learning process is also different between one country and another country. It depends on the culture of the country. For example, in Europe we can use mathematics problem based on four seasons. But we can’t do this in Indonesia, since Indonesia only has two seasons. This difference usually called as ethno mathematics. Ethno mathematics consists of the culture of mathematics, mathematical culture, the uncultured of mathematics, and also the context of mathematics.
In mathematics education, ethno mathematics is the study of the relationship between mathematics and culture (D'Ambrosio, 1999, 146). Often associated with "cultures without written expression" (D'Ambrosio, 1997, may paraphrases Ascher 1986), it may also be defined as "'the mathematics which is practiced among identifiable cultural groups'" (Powell and Frankenstein, 1997 quoting D'Ambrosio). It refers to a broad cluster of ideas ranging from distinct numerical and mathematical systems to multicultural mathematics education. The goal of ethno mathematics is to contribute both to the understanding of culture and the understanding of mathematics, and mainly to lead to an appreciation of the connections between the two. (1)
Ethno mathematics comes from the philosophy of mathematics that affected to the paradigm of mathematics. This paradigm then developed into two kinds of theories. The first theory is about history, psychology, anthropology, and sociology. The second theorem is about mathematics. Then this two theories combined together become ethno mathematics that developed into mathematical context (formal mathematics, model of mathematics, model concrete, and the concrete of mathematics. Ethno mathematics also be in ice berg theorem.
The final project of studying ethno mathematics is a small research in mathematics learning process that’s affected by the culture of a country. This research based on a theory. Then from the theory we can uncover the culture phenomena, so we get the data and develop it into a construction of research and we can make a new theory. This research must contain of the unity, concept, method, scope, relationship, structure, subject, characteristics, value, and timeline.
The example of ethno mathematics around the world is on numerals. These are some explanation of the numerals in some countries: (1)
1.      English
For instance, in English, there are four different systems. The units words (one to nine) and ten are special. The next two are reduced forms of Anglo-Saxon "one left over" and "two left over" (i.e., after counting to ten). Multiples of ten from "twenty" to "ninety" are formed from the units words, one through nine, by a single pattern. Thirteen to nineteen, and in a slightly different way twenty-one through ninety-nine (excluding the tens words), are compounded from tens and units words. Larger numbers are also formed on a base of ten and its powers ("hundred" and "thousand"). One may suspect this is based on an ancient tradition of finger counting. Residues of ancient counting by 20s and 12s are the words "score", "dozen", and "gross". (Larger number words like "million" are not part of the original English system; they are scholarly creations based ultimately on Latin).
2.      German
The German language counts similarly to English, but the unit is placed first in numbers over 20. For example, "26" is "sechsundzwanzig", literally "six and twenty". This system was formerly common in English, as seen in an artifact from the English nursery rhyme "Sing a Song of Sixpence": Sing a song of sixpence, / a pocket full of rye. / Four and twenty blackbirds, / baked in a pie.
3.      French
In the French language as used in France, one sees some differences. Soixante-dix (literally, "sixty-ten") is used for "seventy". The words "quatre-vingt" (literally, "four-twenty", or 80) and "quatre-vingt-dix" (literally, "four-twenty ten" 90) are based on 20 ("vingt") instead of 10. Swiss French and Belgian French do not use these forms, preferring more standard Latinate forms: octante for 80 and nonante for 90.
4.      Mesopotamia
In ancient Mesopotamia the base for constructing numbers was 60, with 10 used as an intermediate base for numbers below 60.
5.      West Africa
Many West African languages base their number words on a combination of 5 and 20, derived from thinking of a complete hand or a complete set of digits comprising both fingers and toes. In fact, in some languages, the words for 5 and 20 refer to these body parts (e.g., a word for 20 that means "man complete"). The words for numbers below 20 are based on 5 and higher numbers combine the lower numbers with multiples and powers of 20. Of course, this description of hundreds of languages is badly oversimplified; better information and references can be found in Zaslavsky (1973).

From the example above, it’s very clear that the culture of a region or a country affected to mathematics itself. But, since mathematics also different for each province in Indonesia, so there are some issue about ethno mathematics in Indonesia :
1.      The role of mathematics in Yogyakarta palace
2.      The role of mathematics in Javanese culture
3.      The role of mathematics in ‘wayang’ culture
4.      The role of mathematics in Borobudur and Prambanan building
5.      The role of mathematics on the counting of someone death
6.      The role of mathematics in fengshui
7.      The role of mathematics in Javanese calendar
8.      The relation of mathematics and forecasting
9.      Irrational mathematics
10.  The relation of mathematics and horoscope
11.  The role of mathematics on Javanese ‘primbon’.
 

Lika Liku Corat Coret Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea