Kamis, 14 Juni 2012

KEBIJAKAN GURU DAN KURIKULUM PENDIDIKAN MATEMATIKA

Diposting oleh Fa di 23.06


Pada era global seperti saat ini, pendidikan merupakan hal yang sangat menentukan kesuksesan seseorang. Dengan pendidikan yang tinggi, maka kehidupannya juga akan terjamin. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menjamin pendidikan warga negara Indonesia sesuai dengan pasal 31 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, dimana setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Salah satu ilmu yang sangat berdampak pada kemajuan suatu negara adalah ilmu matematika. Erman Suherman (2001:29) menyatakan bahwa matematika sebagai ratunya atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seseorang mampu menguasai ilmu matematika dengan baik, maka ia juga akan mampu menguasai ilmu-ilmu lain. Beberapa aplikasi nyata dari penggunaan matematika dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar ataupun tidak. Misalnya pada pembangunan suatu gedung, diperlukan ilmu matematika yang baik agar gedung tetap kokoh; pada pembuatan alat-alat teknologi juga memerlukan ilmu matematika yang baik, mulai dari logika hingga penerapan ilmunya; kegiatan jual beli yang dilakukan baik di toko ataupun pasar juga memerlukan perhitungan matematika yang baik. Oleh karena itu, ilmu matematika sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena sangat berguna untuk masa depan.
Pendidikan saat ini lebih sering dipandang sebagai proses belajar belajar yang terjadi di sekolah. Proses belajar mengajar ini tidak dapat terlepas dari tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang dibuat oleh guru tersebut sangat terkait dengan dua unsur yang mempengaruhi keberhasilan suatu pendidikan, yaitu pendidik dan anak didik (Soedomo,2008:22). Pendidik yang dimaksudkan di sini terdiri dari orang tua, pengajar atau guru, dan pemimpin atau pemuka masyarakat. Sedangkan anak didik yang dimaksudkan di sini adalah anak yang lebih sering kita sebut dengan siswa.
Guru yang juga dianggap sebagai pendidik menjadi salah satu unsur yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karena peran guru yang cenderung lebih besar terhadap keberhasilan akademik siswa di sekolah, dibandingkan oleh orang tua. Guru bahkan seringkali mendapat kepercayaan dari orang tua siswa untuk menolong dan membimbing anaknya. Peran dan tanggung jawab guru yang besar ini menuntut seorang guru memiliki sikap profesionalisme yang tinggi. Akan tetapi, segala tindakan guru haruslah sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini. Permasalahan yang terjadi ialah, kurikulum yang ada di Indonesia hanya mampu diikuti oleh sebagian siswa saja, padahal seharusnya kurikulum dapat diikuti oleh semua siswa. Akan tetapi, karena kurikulum saat ini merupakan sebuah pedoman wajib bagi guru dan siswa, maka kurikulum ini harus dilaksanakan bagaimanapun keadaannya.
Keadaan inilah yang saat ini menjadi tantangan dan juga peluang guru untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah dimilikinya dalam proses belajar mengajar. Apabila dilihat dari sisi desain instruksional pembelajaran matematika, seharusnya seorang guru merupakan komponen multi dimensi, dimana guru tidak hanya sebagai pelaksana pembelajaran, tapi juga dapat menjadi pengembang kurikulum, dan lain-lain. Akan tetapi pada kenyataannya guru di Indonesia saat ini hanya berlaku sebagai pelaksana pembelajaran, tidak mampu ikut dalam pengembangan kurikulum.
Oleh karena peran guru yang sangat terbatas, maka sudah seyogyanya seorang guru mampu memanfaatkan perannya di dalam kelas dengan sebaik-baiknya. Di dalam kelas, seorang guru memiliki dua pilihan besar, yaitu ia dapat menggunakan metode student centered atau metode Ujian Nasional oriented ( examination oriented ). Jadi, meskipun guru berada dibawah tekanan kurikulum saat ini yang berbasis pada Ujian Nasional, akan tetapi di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru tetap bisa menggunakan metode student centered, tidak hanya menggunakan metode drill untuk melatih siswa mengerjakan soal saja. Karena metode student centered  akan memberikan pemahaman materi yang lebih mendalam kepada siswa.
Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru matematika yang bijaksana seyogyanya mampu menentukan metode yang diyakininya untuk dilaksanakan di dalam kelas, sehingga siswa tidak hanya berorientasi kepada Ujian Nasional yang akan ditempuhnya, akan tetapi siswa juga tetap memahami materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Di sini guru juga dapat menggunakan konsep konstruktivisme, mengingat konsep konstruktivisme akan lebih diterima oleh pemikiran siswa, karena menjadi lebih dekat dengan siswa. Ilmu desain instruksional matematika juga dapat digunakan dapat penentuan cara mengajar guru di sini, baik dalam merancang RPP, students’ worksheet, maupun tugas-tugas siswa.

SUMBER:
Erman Suherman,dkk.2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:JICA

Soedomo Hadi.2008. Pendidikan (Suatu Pengantar). Surakarta:LPP UNS

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 

Lika Liku Corat Coret Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea